Banyak hal unik tentang Jepang yang saya amati. Kali ini saya akan me-repost tulisan mengenai Perbedaan tentang penggunaan Handphone di Jepang dan Indonesia.
Orang Jepang menyebut HP dengan keitai denwa (携帯電話) atau keitai saja.
Bagi masyarakat Jepang, handphone (HP) menjadi kebutuhan penting. Berdasarkan
hasil survei Cabinet Office, 31% siswa SD (Sekolah Dasar), 58% siswa SMP
(Sekolah Menengah Pertama) dan 96% siswa SMA (Sekolah Menengah Atas) pada saat
ini menggunakan handphone. Ternyata, hal-hal yang bersangkutan dengan
penggunaan handphone di Jepang mempunyai perbedaan dengan Indonesia.
Banyak Aturan dalam Membeli HP
Di Jepang, membeli HP tidak sesederhana membeli HP di Indonesia yang asalkan
ada uang, siapapun, umur berapapun bisa membeli dan menjualnya dengan bebas
dalam arti tanpa melalui agen resmi atau memerlukan banyak persyaratan. Di
Jepang, HP hanya bisa dibeli di agen resmi (counter resmi) dengan menyertakan
sejumlah persyaratan yang diminta oleh agen penjual seperti mengisi formulir,
buku rekening bank, kartu identitas, dan lain-lain. Hal ini untuk memastikan
identitas pengguna HP tersebut.
Tarif Penggunaan Bersifat Pascabayar
Tidak seperti di Indonesia yang sebagian besar operator menyediakan jasa pulsa
prabayar, di Jepang malah sebaliknya. Bukan berarti tidak ada voucher pulsa
prabayar, hanya saja masyarakat Jepang lebih memilih sistem pulsa pascabayar
seperti telepon rumah yang dibayar di akhir bulan sesuai besarnya penggunaan
tarif HP. Oleh karena itu, penjual voucher pulsa prabayar sangat tidak umum
ditemukan disana.
Membeli HP = Membeli Nomor HP
Mengapa bisa begitu? Di Jepang, nomor HP yang terdapat pada SIM Card dijual
satu paket dengan HP yang dibeli. Oleh karena itu, sebelum membeli HP, pembeli
juga harus menentukan provider mana yang cocok dengannya. Sekali ia menggunakan
sebuah nomor HP, maka kemungkinan besar seterusnya ia akan menggunakan nomor
tersebut. Alasannya akan kamu ketahui setelah kamu membaca semua artikel ini
Peran Ganda Provider/Operator
Jika di Indonesia terdapat banyak provider/operator (pengelola jaringan HP
seperti Telkomsel, Indosat, etc.), di Jepang hanya terdapat 3 provider yaitu
NTT Docomo, AU KDDI, dan Softbank. Provider tidak hanya berfungsi sebagai agen
penjual SIM card namun juga menjual HP (seperti punya brand HP sendiri). Di
Indonesia, sistem ini mirip seperti Operator Esia yang juga menyediakan HP Esia
(walaupun diproduksi oleh brand lain). Oleh karena itu, SIM card dan HP dijual
satu paket.
Jarang Ganti Nomor atau Ganti Operator
Pengguna handphone di Indonesia bebas gonta ganti SIM card (baik nomor HP atau
operatornya), kecuali bagi mereka yang menggunakan HP yang sudah di kunci
(Locked). Sistem HP Locked yang saat ini kurang populer di pasaran Indonesia,
malah terus berlaku di Jepang.
Di Jepang, HP yang beredar di pasaran dijual dalam posisi terkunci (Locked),
dimana sang pengguna hanya bisa menggunakan SIM card dan provider HP yang sama.
Contohnya kalau di Indonesia mirip HP Esia. HP dengan label ESIA yang
diproduksi oleh Huawei hanya bisa digunakan memakai kartu Esia saja. Contoh di
Jepang sendiri misalnya, kartu SIM Docomo juga harus dipasang di HP Docomo. Hal
ini menjadi salah satu alasan mengapa orang Jepang jarang mengganti
kartu/operator. Alasan lainnya adalah desain tempat SIM Card di HP dibuat
terpencil dan sulit dijangkau karena memang bukan untuk gonta ganti kartu.
Soal Merk
Berbagai merk yang bisa dipilih seperti Sharp, Panasonic, Toshiba, NEC, Samsung,
Nokia, Casio dan Kyocera, etc. Seiring perkembangan jaman, HP yang saat ini
paling populer di Jepang adalah Iphone karena Apple mulai mendominasi pasaran
Jepang. Merk yang populer di Indonesia seperti Blackberry malah tidak populer
karena keypad QWERTY yang disediakan relatif jarang mereka gunakan.
Mail atau SMS?
Orang Jepang lebih memilih untuk menggunakan Mail dalam berkirim pesan
ketimbang SMS dengan alasan terbatasnya karakter dalam SMS. Selain itu fitur
mail pada HP mereka juga fleksibel dam cepat digunakan diluar negeri asalkan
terdapat jaringan internet tanpa harus bayar mahal. Jadi selain punya nomor HP,
orang Jepang juga punya alamat mail telepon, misalnya blablabla@docomo.ne.jp,
dududu@softbank.ne.jp, etc. Alamat email juga bisa diganti.
HP Dijual Murah bahkan Gratis
Mengapa? Di Jepang, HP disubsidi oleh provider sehingga bisa lebih murah.
Selain itu, ternyata di rentetan persyaratan saat membeli HP, pembeli juga
diharuskan membuat kontrak dengan agen penjual selama 2 tahun. Hal ini dimaksudkan
agar provider yang telah mensubsidi HP yang mereka jual tidak mendapat
kerugian. Provider mendapat keuntungan dari pulsa yang dibeli oleh pengguna
operator. Agar bisa menutup kerugian, setidaknya pengguna operator harus
berlangganan pulsa selama 2 tahun. Untuk HP yang gratis, biasanya HP yang
modelnya lama. Biar modelnya lama, tapi bukan berarti tidak canggih. Setidaknya
model lama tersebut sudah mempunyai banyak fitur.
Jarang Ada Pencurian HP
Kasus pencurian HP sangat tidak lumrah terjadi, karena HP di Jepang mudah
dilacak keberadaannya. Selain itu, jika sudah dicuri maka juga susah digunakan,
karena HP tersebut sudah lekat dengan identitas pemilik aslinya. Itulah guna
dari pemberian identitas saat membeli HP
Pindah Provider Tanpa Ganti Nomor
Hal ini berlaku di Jepang semenjak bulan Oktober 2006 dengan syarat harus
dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak provider. Namun pada umumnya orang
Jepang akan tetap setia pada satu provider saja. Perlu diketahui bahwa
pelanggan setia suatu provider akan mendapatkan fasilitas lebih dari provider,
seperti tarif yang lebih murah misalnya. Apabila orang Jepang mengganti
provider, maka ia akan menjadi pelanggan baru provider lain, dan otomatis tidak
akan mendapatkan fasilitas lebih.
Tarif Pulsa
Hal ini jelas berbeda dengan Indonesia. Di Jepang, tarif pulsa cukup mahal.
Untuk bicara 30 detik biayanya sekitar 10 yen (Rp 1000,-). Pemakaian pulsa
orang Jepang pada umumnya sekitar 5000 yen (Rp 500000) per bulan (bila hanya
pemakaian standar). Pembayaran tagihan pulsa pascabayar juga disesuaikan dengan
status pengguna. Misalnya, tarif golongan pelajar akan berbeda dengan tarif
pegawai, atau tarif pelanggan lama dengan tarif pelanggan baru. Tarif antara
prabayar dan pascabayar sama saja.
Provider juga menyediakan ketetapan yang menguntungkan pelanggan, misalnya
gratis menelepon pada jam tertentu, tarif telepon murah sesama anggota
keluarga, etc.
Flip vs Candybar

Umumnya masyarakat Jepang banyak yang menggunakan model HP flip / kerang /
lipat ketimbang candybar. Namun karena baru-baru ini Iphone mulai marak
digunakan masyarakat Jepang, otomatis model yang digunakan adalah HP candybar /
batangan.
Nah, demikian ulasan singkat mengenai perbedaan tentang penggunaan Handphone di Jepang dan Indonesia. Semoga bisa menambah pengetahuan :)